Beberapa Larangan Yang Makruh Dalam Islam
1. Banyak bersumpah dengan membaca demi Allah.
dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,( QS. Al Qalam [068] : 10 ) .
2. Berduka cita, walau tidak melalaikan perintah Allah.
janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah ( pula ) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi
( derajatnya ), jika kamu orang-orang yang beriman.
( QS. Ali 'Imran [003] : 139 ).
3. Berjalan dengan sangat gembira, bermegah megah walau tidak sampai menolak kebenaran.
dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
( QS. Al Israa' [017] : 37 ).
4. Keluh kesah walau tidak sampai kepada ingkar akan hukum Allah.
bersabarlah ( hai Muhammad ) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap ( kekafiran ) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.
( QS. An Nahl [016] : 127 ).
5. Makan terlalu kenyang, lebih dari semestinya, kalau terang melaratnya menjadi haram.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[1], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[2]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al A'raaf [007] : 31).
Ket :
[1] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[2] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
6. Masuk kerumah orang dengan tidak mengucapkan salam.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu
( selalu ) ingat.(QS. An Nuur [024] : 27).
7. Mencontoh kesenangan yang diperoleh orang orang kafir diatas dunia.
janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka ( orang-orang kafir itu ), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.( QS. Al Hijr [015] : 88 ).
8. Memberikan sesuatu kepada orang dengan niat supaya dibalasnya dengan lebih banyak.
dan janganlah kamu memberi ( dengan maksud) memperoleh (balasan ) yang lebih banyak.( QS. Al Muddatstsir [074] : 6 ).
9. Memanggil, mengetok pintu rumah orang yang sedang tidur, kalau sampai menyakiti hatinya haram.
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
( QS. Al Hujuraat [049] : 4 ).
dan kalau Sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka Sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS. Al Hujuraat [049] : 5 ).
10. Menyuruh orang berbuat baik dan melupakan diri sendiri.
mengapa kamu suruh orang lain ( mengerjakan ) kebaktian, sedang kamu melupakan diri ( kewajiban ) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab ( Taurat )? Maka tidaklah kamu berpikir?
( QS. Al Baqarah [002] : 44 ).
Ayat ini dihadapkan kepada Bani Israil untuk jadi petunjuk bagi guru guru agama, mubaligh mubaligh, penyiar penyiar agama dan pemimpin pemimpin umumnya, yaitu tidak layak kita menyuruh orang berbuat kebaikan tetapi kita lupakan diri sendiri. Kita suruh orang berbuat amal saleh, tetapi kita berbuat maksiat . Kita suruh orang berbuat jujur dan berbuat baik, tetapi kita berlaku curang dan berperangai jahat. Kita suruh orang berkorban tetapi kita tidak mau berkorban.
Orang orang seperti ini dikecam oleh Allah dengan firman Nya : apa tidakkah kamu berakal ? seolah olah orang yang berbuat demikian bukanlah orang yang berakal. Orang yang berakal adalah ia sendiri lebih dahulu yang melakukan pekerjaan yang baik kemudian baru ia menyuruh orang lain berbuat , dengan demikian ia menjadi contoh dan teladan bagi orang lain.
Demikianlah Nabi Muhammad menyiarkan petunjuk Al Quran kepada umatnya , dengan demikian Nabi itu menjadi imam dan panutan bagi umatnya.
11. Mengeraskan bacaan dalam sembahyang lebih dari aturan atau melunakkannya
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna ( nama-nama yang terbaik ) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[3] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".( QS. Al Israa' [017] : 110 ).
Ket :
[3] Maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma'mum.
